Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Viral Tante Menggoda Ku Dengan Toket Brutal 3

 Iklans.com - Menjelang sore, Bima datang dengan tas besarnya yang berisi perlengkapan pribadinya. Rupanya dia bawa alat makeup sendiri. Mas Nano, penata rias kami yang telah disiapkan, aku perkenalkan pada Bima. Aku katakan masalah kulit belangnya akibat sinar matahari kepadanya. Mas Nano yang tampil bencong itu minta Bima untuk memperlihatkan tubuh belangnya itu. Kami pun ke ruang ganti.

Di ruang ganti yang juga sebagai ruang rias, Bima membuka kaosnya. Mas Nano langsung berdecak kagum melihat tubuh indah Bima dan keluarlah pujiannya. Tubuhnya kelihatan ramping tapi berotot.




“Gue jadi nafsu nih,” katanya terus terang.
Aku dan Bima tertawa. Sikap kemayunya Mas Nano muncul seketika. Dia begitu kelihatan feminim. Tubuh Bima yang kemarin kulihat belang sudah tidak begitu kelihatan belang, sekarang kelihatan samar saja. Rupanya Bima menjemur diri agar seluruh tubuhnya berwarna sama. Pantas terlihat lebih gelap.
“Ini gampanglah. Kalau sama gue, lu pasti oke!” kata Mas Nano, “Kayaknya tak perlu makeup banyak. Lu sudah ganteng begini.” Tangannya mencolek perut Bima, yang membuat Bima membungkuk kaget.
Kami tertawa. Dasar Mas Nano yang nggak bisa nahan. Kutinggalkan Mas Nano yang akan merias Bima. Aku ke area pengambilan gambar, bergabung dengan Bang Jay yang sedang memberi pengarahan kepada kameramen dan asistennya. Aku hanya mendengarkan dan sesekali berkomentar setuju atas apa yang disampaikan.
Bima keluar dari kamar ganti hanya dengan lilitan handuk di pinggang. Kemudian para petugas mengambil posisi untuk memulai. Bang Jay mulai memberi pengarahan dan perintah. Handuk yang menutupi tubuh bagian bawah Bima disingkap. Bima haya menegenakan celana dalam yang mini, warna biru. Para kru bertepuk tangan, seperti sebuah seremoni memulai upacara.
Tubuh Bima terlihat sangat indah disorot lampu yang sangat terang sambil disiram air pancuran. Dia menggerakkan kepalanya, bahunya, lengannya, badannya, pinggulnya, kakinya. Dimataku apa yang dilakukannya sangat indah. Pintar memang dia. Semua dilakukan berulang, dia seperti menari.
Fantasiku mulai melayang lagi. Walau mataku melihat kegiatan shooting, tapi otakku melihat semua kru telanjang, termasuk Bang Jay dan Bima. Tidak ada adegan pengambilan gambar. Yang ada adalah pesta seks cowok gay! Mereka saling menyentuh satu sama lain. Bima dikeroyok oleh Bang Jay dan dua orang yang tadi memegang kamera. Bima berciuman penuh nafsu dengan satu cowok, sedang kontolnya diemut bergantian oleh Bang Jay dan cowok satunya lagi.
Sementara itu kontol Bang Jay sedang dikerjain sama dua cowok lainnya. Bergantian dan ramai sekali. Semua adegan terasa sangat nyata di mataku. Jantungku memompakan darah dengan kencang sampai ke ujung ubun-ubunku. Aku yang berdiri bebas terasa mau ambruk karena kakiku terasa menggigil. Kontolku makin menegang dan mengeluarkan cairannya..
Ada sedikit kaget ketika kusadari, Bu Ayu telah berdiri di sampingku. Aku berusaha membuyarkan fantasiku. Kutarik nafas dalam kemudian kuhembuskan pelan. Kutangkupkan telapak tanganku ke wajah. Menekan jariku di mataku. Beginilah caraku membuyarkan pertunjukan fantasiku. Nafasku terasa susah ditenangkan.




“Capek ya?” tanya Bu Ayu, sedikit berbisik.
Mungkin dia melihatku menghembuskan nafas tadi. Aku menggeleng dan tersenyum padanya. Bu Ayu berdiri di sampingku. Dia menanyakan progres kegiatan shooting ini. Berapa kaset video yang telah digunakan tak dapat kujawab pasti. Serius dia memperhatikan adegan pengambilan gambar. Tapi dari sorot matanya dapat kulihat penuh nafsu. Sorot mata yang pernah kulihat saat dia beraksi diatasku tubuhku. Dengus nafasnya tak dapat disembunyikan. Tangannya bersedekap di dadanya. Rina dan Sisy menonton dari pojok studio. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Tante Menggoda Ku Dengan Toket Brutal 2

 Tradingan.com - Hampir jam 12 tengah malam, aku dan Bang Jay pulang dari rumah Bang Hotman. Kami membawa kaset demo untuk diperlihatkan pada Bu Poppy besok pagi. Dalam perjalanan pulang, ketika melewati daerah Kemang, Bang Jay usul untuk mampir ke cafe. Aku sedang capek dan mau langsung pulang saja dan tidur. Nggak enak juga rasanya aku menolak ajakan Bang Jay. Tapi fisik dan otakku rasanya capek banget.



“Kalau abang mau, bawa mobil ini saja,” usulku padanya yang sedang nyetir, “Aku turun di sini, pulang naik taxi.”
Huh! Usul yang tidak kompak, mengabaikan kebersamaan. Batinku protes.
“Kasihan kamu pulang sendiri. Apalagi naik taxi. Jakarta rawan perampokan dan pemerkosaan. Harus hati-hati,” kata Bang Jay.”Apalagi tampang seperti kamu Yadi. Yang naksir banyak,” tambahnya. Dia melirik ke arahku dan sedikit tertawa.
Aku terdiam beberapa saat. Bang Jay juga memperhatikanku” Jalanan sekitar Blok M masih ramai, padahal sekarang sudah lewat tengah malam. Lampu hias yang berkelap-kelip membuat suasana sekitar menjadi semarak dan indah.
Aku alihkan pembicaraan mengenai diriku dengan menanyakan soal Bu Ayu. Bang Jay menjelaskan bahwa biro iklan kami telah lama jadi rekanan perusahaan tempat Bu Ayu bekerja. Dan tanpa kuminta, Bang Jay terus bercerita bahwa hal yang wajar bisnis dengan servis layanan seksual. Kalau bosnya laki dikirim cewek untuk melayaninya. Dan kalau perempuan biasanya Bang Jay yang mencarikan cowok gigolo.
Bang Jay cerita lagi, kalau aku langsung diterima bekerja karena penampilanku. Bukan karena nilai-nilaiku di ijazah atau lampiran prestasi lainnya. Bekerja di lingkungan bisnis di Jakarta memang harus punya tampang keren yang menjual disamping pintar dan trampil. Mestikah aku tersinggung setelah mengetahui ini” Karena itu aku dibiaran Bu Poppy bersama-sama dengan manajer pemasaran seperti Bu Ayu. Aku belum menyadari itu semua. Waktu dalam 2 bulan, belum mampu aku melihat gelagat bisnis seperti ini.
Dalam hati aku berkeyakinan untuk memperlihatkan prastasiku, bukan tampang yang bagus saja. Olah raga yang kulakukan untuk menjaga kebugaran tubuhku dan peralatan perawatan tubuhku bukanlah yang utama. Tampil keren tapi nggak bisa apa-apa, buat apa?
Sudah 2 minggu aku di aparteman ini. Kerja yang lumayan sibuk, tapi bagiku sangat menyenangkan. Bang Jay banyak membantuku. Dan satu hal lagi, aku tidak sampai terjerumus untuk ‘berhubungan lebih jauh’ dengan Bang Jay. Bang Jay dapat menjaga dirinya, walau kadang aku bisa tidak tahan untuk digoda Bang Jay. Bayangan akan indahnya tubuh Bang Jay ketika mandi yang pernah kulihat seringkali menggodaku untuk kembali mengulanginya. Terutama saat kudengar suara air ketika Bang Jay mandi. Keinginan untuk mendobrak masuk, sampai saat ini masih dapat kutahan.
Siang ini Bima akan datang. Akhirnya dia model yang dipakai untuk promosi produk. Tadi dia telpon dan mengatakan mau mampir. Bang Jay sedang ke Mas Narto mengantar sketsa disain untuk poster yang telah aku buat beberapa koreksinya. Tinggal aku sendiri sambil main internet. Memeriksa email gratisku yang nyaris penuh.
Lusa adalah jadwal kami shooting di studio sekitar Kebun Jeruk. Kami akan masuk siang setelah minta Rina untuk mengkonfirmasi jadwalnya. Semua telah sesuai rencana dan kami dapat jatah sehari penuh pemakain studio dan peralatannya. Settingnya pun mereka yang mempersiapkannya, sesuai dengan disain yang kami buat.




Bel pintu berbunyi. Segera aku log-out dari halaman emailku, kemudian buka pintu. Bima sedang berdiri sambil tersenyum.
“Aku tidak mengganggu, kan?” tanyanya.
“Ah, nggak. Silahkan, Bim. Sendirian saja?” aku balik bertanya.
Dia mengangguk sambil melangkah masuk. Dapat kucium aroma tubuhnya yang wangi. Ransel yang disandangnya ditaruh di lantai sambil buka sepatu. Dia kelihatan rapi dengan kemeja polos kuning dan celana jeans hitam ini. Segera aku tutup pintu. Aku persilahkan dia duduk di kursi tamu dan kuambilkan minum, dua botol aqua dari kulkas. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Tante Menggoda Ku Dengan Toket Brutal 1

 Biodataviral.com - Aku terbangun ketika bel pintu berbunyi. Ah, aku lupa, kalau pintu masih terkunci. Disampingku Bu Ayu masih tertidur pulas. Kelelahan dia. Kuperhatikan tubuhnya yang halus dan putih. Dadanya masih kelihatan kencang dan perutnya juga tidak gendut. Aku suka keindahan yang dimiliki oleh ibu muda ini. Bel di pintu bunyi lagi. Mungkin Bang Jay pulang, kata batinku.


Aku bangun dengan malas. Aku ambil pakaian bersihku di lemari. Celana training dan kaos oblong, agak buru-buru aku memakainya. Aku tidak memakai celana dalamku. Aku juga tidak sempat untuk merapikan pakaianku yang berserakan di samping tempat tidur.
“Maaf, menunggu lama ya?” kataku pada Bang Jay yang berdiri di pintu.
Ada rasa bersalah timbul. Seharusnya pintu tidak kukunci, tapi keliaran Bu Ayu tadi membuat aku takut ketahuan.
“Baru akan ditelpon,” katanya sambil mengantongi HPnya,”Baru tidur ya?”
Aku mengangguk sambil kusapu mukaku. Mungkin tampangku kacau, aku belum sempat bercermin tadi. Baru kusadar kalau tanganku belum kucuci, masih ada bau vagina tercium olehku.
Dia masuk dan membuka sepatu sendalnya. Map besar yang disandangnya ditaruh di meja makan, sedang ranselnya di taruhnya di sofa. Bau keringatnya cukup merangsang. Kancing kemejanya yang tidak dikancing, memperlihatkan dadanya yang bidang. Aku menelan liurku, kembali terbayang ketika Bang Jay mandi. Pintu kembali kututup.
Dia mengambil minuman kaleng di pojok dapur. Dia membuka kemejanya dan menaruhnya di sandaran meja makan. Bulu dada yang halus dan bulu di bawah pusarnya kulihat sangat seksi. Ah, fantasiku mulai lagi..
Kubuyarkan lamunanku. Kalau Bang Jay ke kamar, dia pasti melihat Bu Ayu. Jantungku berdebar, takut ketahuan. Masih ada rasa malu ya? batinku menggoda. Zinah yang kamu lakukan bersama Bu Ayu akan tetap jadi dosa, Yadi!
Aku menuju kamar mandi, sambil sebelumnya aku tutup pintu kamarku yang tidak tertutup rapat. Aku segera cuci tangan pake sabun. Kucuci juga mukaku. Mulut dan hidungku kusapu agak lama. Oral yang kulakukan di vagina Bu Ayu meninggalkan bau yang masih merangsangku. Kembali aku bilas mulutku dengan air yang banyak di wastafel.
“Tadi saya sudah ke Mas Narto,” lapor Bang Jay dari ruang makan.
Setelah aku keringkan mukaku dengan handuk, segera aku keluar dari kamar mandi.
“Lalu asistensinya bagaimana, Bang?” tanyaku. Dia menunjuk ke map besar di meja makan. Sambil minum dia berdiri di bawah ac.
Rupanya sangat kepanasan dia setelah dari luar. Aku tahu isyaratnya. Aku buka mapnya, dan mengeluarkan isinya berupa beberapa lembar storyboard yang tampilannya seperti komik. Bagus sekali. Sudah berwarna lagi. Aku duduk di kursi makan diikuti Bang Jay. 




Dia meletakkan kaleng minumannya, dan membantuku membentang 5 lembar gambar storyboard yang berukuran doble folio itu. Menyusunnya di meja makan agar kami mudah mengamatinya. Bau badannya sangat dekat di hidungku. Entah kenapa, ada keinginan untuk mencium langsung tubuhnya.
“Saya cuma koreksi untuk di endingnya saja,” kata Bang Jay,”Mungkin besok, Mas Narto datang bawa koreksinya.”
Aku melihat halaman storyboard yang dimaksud Bang Jay. Gambar ulustrasi yang memperlihatkan wadah bedak yang terbuka di rak kamar mandi, sedangkan backgraundnya cowok sedang mandi. Ada tulisan slogan di bawahnya. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Kisah Sensasi Ngewe Wanita STWB Terviral

 Tradingan.com - Jika tulisan “Gara-gara Harnet” merupakan pengalamanku sekitar 30 tahun lalu, pada tulisan kali ini adalah cerita pengalaman yang baru saja terjadi beberapa bulan yang lalu. Memang jika dilihat dari usiaku yang sudah hampir 50 tahun, bisa jadi kehidupan sex bukanlah sesuatu yang luar biasa. Rasanya hampir semua macam gaya dari 112 tehnik bercinta ala kamasutra sudah pernah aku praktekan dengan isteri. Tingkat ereksipun sudah beralih dari semula “pandangan hidup” (baru memandang saja sudah hidup) ke “pegangan hidup” (harus dipegang-pegang dulu baru hidup). Bahkan tahun lalu, pernah tiga bulan lebih “si otong” tidak mau bangun, sehingga karena kewalahan, sampai isteri menganjurkan untuk periksa ke dokter spesialis. Awalnya enggan juga ke dokter, karena aku merasa normal-normal saja, namun karena desakan isteri, akhirnya kuturuti juga ke dokter, apalagi Bu dokternya cukup simpati dan menawan kendati usianya sudah lima tahun diatasku. Yach.., istilahku STWB (Setengah Tuwa Buanget).


Singkat cerita, ketika konsultasi, aku diperiksa secara fisik dengan teliti oleh Bu dokter termasuk test darah dilabotarium. Seminggu kemudian, sesuai perjanjian aku kembali lagi ketempat praktek Bu dokter, kali ini tidak didampingi isteri sehingga hanya aku dan Bu dokter di ruang prakteknya.

“Selamat malam Bu dokter”! Sapaku ketika masuk keruangan prakteknya.
“O..selamat malam Pak anto, silahkan duduk! Jawabnya ramah, kemudian dia melanjutkan lagi,
” Begini Pak, setelah saya pelajari dari hasil pemeriksaan minggu lalu, tampaknya tidak ada kelainan diorgan tubuh bapak, semuanya normal-normal saja. Makanya saya juga heran kenapa sampai tiga bulan ngga mau bangun?! Mungkin bapak terlalu cape atau banyak pikiran?
” Ah tidak juga Dok”!!, Jawab saya.
“Atau ada persoalan keluarga sehingga secara psikis berpengaruh”? tanyanya lagi.
” Juga tidak ” jawabku singkat.
” Lalu kenapa ya?? Dengan Ibu (isteriku maksudnya) sudah tiga bulan lebih ngga mau bangun, hanya maaf nih.., kalau misalnya dengan wanita lain bagaimana Pak?!
” O.. kalau itu otomatis “!! jawabku spontan. Tidak usah jauh-jauh dok, ngobrol lama-lama dengan dokter saja si “dia” sudah mulai menggeliat nih!!

” Ah.. Pak Anto ada-ada saja, kalau begitu masalah bapak hanya BTL “, jawabnya sambil senyum dikulum..
” Wah.. apalagi BTL? tanyaku penasaran..
” Itu lho .. Bangunnya Tergantung Lawan..”
“Betul sekali Bu Dokter..ngga salah deh kalau saya berkonsultasi kesini!! kami pun tertawa bersama-sama.

Ceritaku dengan Bu Dokter memang hanya sebatas itu, mengingat kedudukan kami saat ini. O.. ya sekedar informasi.. saat ini saya bertugas di luar jawa sebagai kepala kantor perwakilan, sementara Bu dokter juga merupakan dokter senior yang terpandang di Daerah tempat kami sama-sama bertugas. Hubungan antar pemuka masyarakat di sini cukup harmonis dan kompak sehingga rasanya tidak mungkin kami berbuat diluar batas. Wajib baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Kisah Dewasa Pemerkosaan Rinda Dengan Lembut

 Aopok.com - Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.


Suatu hari di sore hari Rida terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangann! Lepaskann!”, Rida berusaha meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangann!”, Rida mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Kisah Sakitnya Anus Ku Di Sodok Tapi Lama-Lama Nikmat

 Tradingan.com - “Hai, celanamu bagus. Dimana kamu jahitinnya?” tanyaku kepada Rasta.

“Di dekat kampus. Wow, banyak kok. Bertebaran deh”.
“Boleh dong aku diantar ke sana?”
“Kapan kamu maunya?” demikian Rasta menimpali.

Aku meneliti celana jeans yang sedang dikenakan Rasta siang itu. “Tolong dong, diangkat bajunya, aku mau lihat jahitannya?” kataku sambil merunduk ke arahnya. Rasta segera mengangkat t-shirt yang dipakainya tinggi-tinggi. Terlihat bulu-bulu halus berbaris dibawah pusarnya dengan arah kontur jelas bersumber dari sesuatu yang ada di bagian pangkal pahanya.

“Lho, kok longgar, sih?” kataku mengomentari lingkar celana yang terlihat besar. “Nih, lihat, empat jariku dapat masuk ke dalamnya” aku memasukan jemariku ke bagian dalam celana jeansnya untuk menunjukan hal itu. Pada saat yang sama, aku sempat terkejut, ternyata Rasta tidak memakai celana dalam. Tanganku langsung menyentuh pubicnya yang terasa sekali kelebatannya. Wajah Rasta bersemu merah. Malu. Aku pura-pura tidak melihat perubahan pada wajahnya.

Setelah kejadian itu, pikiran ngeresku selalu membayangkan aku dapat memegang bahkan melumat sekalian sesuatu yang ada di antara pubicnya itu. Kala itu jangkauan tangganku tidak dapat mencapainya. Karena ia belum ereksi.Tapi intuisiku mengatkan bahwa probabilita Rasta dapat juga menikmat seks sejenis adalah sekitar 80-90% kebenarannya. Aku hanya perlu membuktikan hipotesa saja. Apalagi dari analisa sikap dan perilakunya sebagai seorang ‘anak mami’ yang dandy dan fasionable. Dia malu sekali ketika aku mengomentari kuku tanganya yang bersih karena melakukan treatment menipedi (Manicure and Pedicure).

Memang sih, kutahu ia punya girl friend. Aku juga kenal kok dengan pacarnya itu. Tapi menurut pandanganku itu tidak menjadi alasan yang signifikan bahwa ia tidak bisa lagi make love sejenis. Sesuatu yang membuat aku begitu yakin adalah selera pilihannya terhadap warna-warna tertentu serta sikapnya yang manja kepadaku. Aku biasa memeluk dan mencium pipinya ketika ulang tahun. Suatu kali, bahkan pernah kami bersentuhan bibir. Namun, aku tidak ingin gegabah bertindak lebih yang akhirnya merusak pertemanan itu.

Sampai pada suatu ketika ia datang kerumahku dengan keadaan basah kuyup. Saat itu memang kebetulan hujan deras.

“Lho kok tumben sampai kebasahan gitu?” kataku kepadanya sambil memberikan handuk dan ganti pakaian kering kepadanya.
“Rumahmu, sih, pake masuk gang segala. Sialnya, aku sedang gak bawa payung lagi” Rasta menggerutu, kemudian ia melanjutkan “Menunggu hujan berhenti, wah, aku gak sabar deh. Makanya aku beranikan monek (modal nekad) aja menerabas hujan. Kalau mama tahu begini pasti sih diomelin. Ntar pilek, batuk, he he…he….he..he..” Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Heboh! Aku Suka di Masukin Ke Lobang Anal

 Aopok.com - Tak pernah terbayangkan olehku bertemu dengan seseorang yang mengagumkan, baik hati, gagah, menyenangkan dan pasti handsome, dialah Kapten Heru. Malam itu aku merasa lapar sekali, sementara jam sudah menunjukkan pukul 07:30 WITA. Segera kupacu mobilku ke sebuah restaurant fast food terdekat. Kota ini memang tidak terlalu besar, sehingga tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi, dan kalau malam yah tidak terlalu ramai. Beda sekali dengan kota kelahiranku, ibukota Jakarta. Aku sendiri baru beberapa bulan di kota ini untuk bekerja.


Malam itu aku memesan beberapa fried chicken dengan nasi dan soft drink. Aku pun duduk di sebuah bangku yang menghadap ke luar. Di sampingku sudah duduk seorang laki-laki, mungkin berumur sekitar 35 tahun. Dengan senyum aku pun duduk didekatnya.
“Ma’af Pak,” kataku sambil senyum dan meminta izin untuk duduk di sampingnya.
“Silakan, Mas,” jawabnya sambil juga tersenyum.
“Sepertinya bukan orang sini?”

Rupanya dia mendengar logat bicara saya, sehingga dia menarik kesimpulan seperti itu. Akhirnya kami pun saling memperkenalkan diri. Ternyata dia seorang anggota militer bernama Heru, ya dia kapten Heru. Dia pun ternyata juga bukan orang sini, dia bertugas di kota ini. Dan yang lebih mengagumkan, ternyata umurnya sudah 45 tahun. Benar-benar terlihat muda dan gagah dengan kumis yang tertata rapih.

Kami pun terus bicara dan Kapten Heru pun bercerita banyak mengenai pengalamannya, baik dalam penanganan keamanan di lingkungan, maupun cerita-cerita yang membuat hatiku deg-degan juga. Pengalamannya sudah banyak sekali, hampir seluruh pulau di Indonesia sudah dikunjungi dalam rangka tugas. Aku sangat tertarik dengan semua cerita-ceritanya termasuk cerita cintanya dengan beberapa wanita di kota ini.

“Begitulah pengalaman saya Mas..” katanya kemudian. Sebenarnya aku tidak hanya tertarik dengan semua ceritanya, tapi yang membuatku lebih tertarik lagi adalah gaya bicaranya yang jelas dan tegas, wajahnya yang ganteng dan penampilannya yang gagah. Beberapa kali ceritanya diiringi dengan senyuman yang membuatku tak berdaya memandangnya.

“Oh ya, kita baru kenal tapi sepertinya saya begitu dekat dengan Mas, sehingga saya cerita tanpa kendali, sampai cerita pribadi.. ha ha ha.. Mas sendiri punya pengalaman apa?”
Tiba-tiba saja kapten Heru mengejutkanku dengan pertanyaannya. Aku terkejut dan bingung apa yang harus kuceritakan.
“Wah, cerita apa ya?” kataku sambil berpikir.
“Anda ramah dan baik, sehingga saya pun merasa kita sudah kenal lama sekali. Tapi apa yang bisa saya ceritakan?”
“Masa tidak punya pengalaman?” Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral! Berbagi Anus dan Toket Ke Dosen

 Piool.com - “Nah, ‘Ndra ini kamarmu”

“Jadi menurutmu gimana kamarnya?” Tanya Tante padaku.
“Memang agak berantakan sih, soalnya kamar ini jarang dipakai” Tambahnya lagi.
“Ah, bagus kok Tante!” Jawabku.
“Malah lebih besar dari kamarku dirumah sana.” Tambahku.
“Bagus deh kalo kamu suka kamarnya.” Ucap Tante lagi.

Tante sedang mengajakku melihat-lihat sebuah kamar dilantai dua rumahnya. Didalam kamar itu kulihat ada sebuah kasur bertingkat, meja belajar, lemari pakaian serta sebuah kamar mandi. Ruangan inilah yang mulai semester ini akan aku tempati sebagai rumah keduaku. Sebelumnya aku berangkat kuliah dari rumah orangtua ku yang berjarak sekitar 20 km dengan sepeda motor. Karena aku sering kecapekan, makanya aku ditawari tinggal bersama tanteku dirumah ini, yang memang jarak dari sini ke kampusku hanya sekitar 10 menit saja, itulah yang menjadi salah satu partimbangan ku, yang membuat aku menerima tawarannya.

Dalam rumah yang cukup besar ini hanya dihuni oleh empat orang saja yaitu, Tante Maya, dan dua orang anaknya serta Bi Yani; pembatu dirumah ini. Anak Tante maya itu yang satu laki-laki dan yang satunya lagi perempuan. Yang laki-laki masih sekolah kelas 2 SMU, dan yang perempuan masih 5 tahun. Sedangkan paman Andre, ayah mereka, sudah lama meninggal.

Sebenarnya aku tidak suka numpang dirumah orang lain walaupun itu masih keluargaku sendiri, karena aku merasa nggak enak sama yang punya rumah dan ruang gerak yang terbatas alias nggak bebas. Tapi ada sebuah alasan kuat yang membuatku mau tinggal, alasan tergila, yaitu karena aku tergoda oleh anak sulung keluarga ini, Teddy. Kenapa? Karena aku ini gay, aku menyukai sesama jenisku, yaitu pria.

“Udah yah ‘Ndra tante tinggalin” ucap Tante.
“Kalo kamu ada perlu apa-apa, bilang aja sama tante,”
“Nggak usah malu-malu. Anggap aja ini rumah kamu sendiri” tambahnya.
“Ted, bantu Indra membereskan barangnya, ibu mau ke rumah Bu RT dulu!” Suruh tanteku pada Teddy.
“Iya!” Jawabnya. Dan kami ngobrol sambil membereskan barang-barangku.
“Ted, ini tadinya kamar siapa?” Tanyaku memulai percakapan.
“Oh ini, tadinya kamar Teddy, cuman karena tempatnya sepi jadi Teddy tidur dikamar bawah.” Jawabnya menjelaskan.
“Diatas sini kan cuma ada satu kamar ini” Tambahnya.
“O, tapi sekarang kan ada gue, kamu tidur disini aja, gimana?” Bujukku.
“Emm..” Teddy terlihat berpikir.
“Ayolah, please! Biar kalo malem-malem gue ada temen ngobrol. Jadi nggak bete” Tambahku meyakinkannya.

“Ok deh!”
“Teddy juga emang suka bete, kalo malem-malem pasti langsung tidur, soalnya nggak ada yang bisa diajak ngobrol.” Jawabnya mengiyakan.
“Kakak mau di kasur atas atau yang bawah?” Ucapnya balas bertanya.
“Mm.. Dimana yah.. Mm.. Aku di atas aja deh.” Jawabku singkat.
“Ok berarti Teddy di kasur bawah.”
“Kalau gitu Teddy bawa barang-barang sama baju-baju Teddy dulu kesini.” Ucapnya.
“Eh entar aja kalau barang-barang gue udah selesai. Entar gue Bantu deh.” Ucapku memberi saran. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Kisah Ngentot Anus dan Jilat Tetek Tante Susan

 Tradingna.com - Aku masih duduk di bangku SLTP saat itu. Di saat aku dengan teman-teman yang lain biasa pulang sekolah bersama-sama. Usiaku masih terbilang hijau, sekitar tiga belas tahun. Aku tidak terlalu tahu banyak tentang wanita saat itu. Di kelas aku tergolong anak yang pendiam walaupun sering juga mataku ini melirik pada keindahan wajah teman-teman wanita dikelasku waktu itu.

Aku memang tidak seperti David, salah satu temanku yang biasa pulang bersama-sama selepas sekolah usai. Walaupun kulitnya terbilang gelap, hidung besar dan pesek tapi pengetahuannya tentang wanita terbilang banyak. Terlebih mengingat usianya yang hanya terpaut tiga bulan lebih muda dariku.

Temanku yang satu ini tergolong pria playboy. Pacarnya banyak, sering gonta-ganti. Hampir tiap minggu selalu tampil cewek dengan wajah baru disampingnya. Gila memang, walaupun secara jujur buatku seleranya sangat berbeda. Aku senang dengan cewek yang kalem, seperti putrid solo layaknya dengan wajah manis bersahaja. Biasa-biasa saja. Sementara David senang dengan cewek yang agresif dan periang, wajah rupawan bak-Tamara Blezinsky layaknya.

Hal ini jugalah yang membawa aku dan teman-teman yang lain kedalam sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi kami saat duduk dibangku SLTP dulu.
Semuanya bermula dari selera siplayboy David terhadap perempuan. Kebiasaannya untuk tak melewatkan barang sedetikpun perhatiannya terhadap keindahan wanita membawa aku, Syarif dan Bagong kesebuah rumah di komplek pemukiman Griya Permai. Komplek perumahan yang biasa kami lewati saat pulang menuju kerumah masing-masing.
Mulanya aku dan Bagong sedang asyik bercanda, tertawa cekikikan seperti biasa sementara Syarif mendengarkan dengan wajah dingin membeku. Secara tiba-tiba David menepuk pundakku dengan keras. Matanya tertuju kesatu rumah dengan tajamnya. Ternyata disana kulihat ada seorang wanita dengan mengenakan rok mini baru saja keluar meninggalkan mobilnya untuk membuka pintu pagar rumah.

“Heh, vid. Kenapa sih elu tiap lihat perempuan mata elu langsung melotot kayak begitu?” tegurku.
“Elu itu buta ya, mam. Elu kagak lihat bagaimana bongsornya bodi tuh wanita??” balasnya cepat.
“David, david.. bisa-bisanya elu nilai perempuan dari jarak jauh begini-ini” sambung Bagong “Itu mata.. apa teropong”


“Wah, kalau untuk urusan wanita kita nggak pake mata lagi, men. Nih, pake yang disini nih.. dibawah sini” jawab David sambil menunjuk-nunjuk kearah kemaluannya.
“Kalau gua udah ngaceng, perempuan diseberang planet juga bisa gua lihat” kata David dengan senyum penuh nafsu.
“Jadi sekarang elu lagi ngaceng, nih?!” tanya Syarif yang sedari tadi hanya bisa tenggelam dengan pikiran-pikirannya.
“So pasti, men. Nih kontol udah kayak radar buat gua. Makanya gua tahu disana ada mangsa” jawab David dengan lagi-lagi menunjuk ke arah kemaluannya.
“Gila lu, vid” kataku.
“Ha-alah, enggak usak munafik deh mam, elu juga ngaceng kan, waktu melihat roknya siDina kebuka di kelas. Gua kan tau.. elu juga kan gong?” balas David cepat.
“yah, itu kan kebetulan. Bukannya dicari, ya kan mam?” tanya Bagong kepadaku. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia